Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Lagu Tanpa Irama (Cerpen)



Ketika pertama kali tahu Faia Younan akan konser di Kairo, aku memberitahumu dengan segera. Dan tentu saja kau mengiyakan dengan cepat. Bagi kita yang ikut tumbuh dengan lagu-lagunya, Faia bukan hanya sekadar penyanyi, tapi juga ingatan yang tak mungkin bisa lepas dari cerita-cerita kita.

Misalnya sewaktu kita habiskan pagi di sepanjang Cornice Nile, kita berhenti sejenak hanya untuk mendengarkan lirik “Fi Thariiqi Ilaik” dengan seksama. “Ternyata jatuh cinta butuh kesabaran ya,” katamu menyeka Faia di tengah-tengah tarikan suaranya. 

Lalu di lain hari, kamu menanyaiku tentang bagaimana prosesku mencintaimu. "Kaya 'ya laitahu ya'lam' gak?" tanyamu penasaran. Aku hanya tertawa menyambut kelakar itu, sebab perjalanan mencintai tentu tak sesederhana lirik lagu. Ada deg-degan yang disembunyikan, ada malu dan sungkan, ada ketakutan, ada letupa senyum tiba-tiba, ada malam-malam yang tak sabar ingin dilepaskan atau justru dilambatkan. 

Lima hari menjelang konser itu tiba, hari-hari kita terasa begitu berat. Dering teleponku tidak lagi membuatmu ingin buru-buru mengangkatnya. Begitupun dengan pertemuan-pertemuan. Rasanya ada hari yang kau hapuskan dari hidupmu.

“Aku antar pulang, ya.” Kataku disambut anggukan kecil yang kehilangan gairahnya. Sore itu, untuk pertama kalinya kita pulang dengan arah pikiran yang berbeda. Tidak ada sedikit kata pun terucap, keputusan dan kesedihan tergaris di wajahmu begitu nyata. Sampai akhirnya sampai di depan gerbang rumahmu, tentu dengan keyakinan bahwa berdiri di depan gerbang ini adalah kali terakhir yang nampaknya akan sulit terulangi lagi. 

“Tiket konsernya udah terlanjur dibeli. Mau tetap nonton atau gimana?” Aku cukup putus asa untuk bertanya, namun setidaknya itulah cara terbaik untuk menutup hari yang berat itu. 

“Ya, ya, kita akan tetap nonton. Sekian lama nunggu dia konser di sini, masa gak ditonton.” Kau berusaha tersenyum, meskipun nampaknya itu adalah sia-sia belaka. Suaramu agak serak menahan isak. Angin Bawabah berdesir pelan, samar-samar terdengar longlongan anjing di kejauhan. Kita kehilangan kata-kata, sebanyak apapun narasi di kepala kita. Tiba-tiba saling canggung seperti saat pertama kali bertemu, namun lebih dingin.

“Aku masuk dulu ya. Nanti kita berkabar lagi. Makasih udah nganterin pulang.” Pelan-pelan badanmu berbalik, berjalan menaiki anak tangga tanpa tengokan dan lambaian senyum seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu, aku pulang dengan beban pikiran yang tak pernah ada sebelumnya. 

Kita memang sering berbeda isi kepala sejak semula. Sering beradu argumen, sering mematah-tumbuhkan, tapi tak pernah sedingin minggu-minggu terakhir ini. Ternyata aku tak sepenuhnya tahu bagaimana rasanya jadi kamu, sebagai anak perempuan dari laki-laki yang terlalu banyak jasanya untuk kau tak pedulikan perkataannya. Ia memintamu pulang selepas selesai pengurusanmu ijazahmu bulan ini, juga memintamu pulang namun bukan ke rumah yang kita bangun dalam imaji.

Sampai akhirnya konser itu tiba, dan kita berangkat sama-sama menuju Le Marchè Cairo Festival City. Tentu saja ada sedikit  rasa canggung, namun kita cukup tahu bagaimana cara menyembunyikan kecanggungan masing-masing. Kerudung merah muda pastel dengan sedikit corak ungu di beberapa bagiannya. Tas kecil bertali putih, dan pakaian panjang berwarna senada membalut kecanggunganmu malam itu. Ada jaket kulit berwarna coklat yang kau jinjing, takut dingin, katamu.

Lagu-lagu dilantunkan dengan sambut sorak riuh. Faia yang selama ini hanya ada dalam playlist, dengan anggunnya menguasai panggung melantunkan satu per satu kenangan kita dengan apik. Kita duduk berdampingan sama-sama bernyanyi mengikuti irama demi irama.  Di bawah gemerlap lampu, tepuk tangan, dan siul para penonton, kita menikmati konser itu seperti melakukan perjalanan panjang. Serupa napak tilas dari satu kenangan ke kenangan lainnya. Diam-diam sesuatu menetes di ujung kelopak mata. Tahukah kamu betapa rindu masih tetap menyala sedingin apapun keadaan membeku di antara kita? 

Malam semakin larut dan konser hampir menemukan ujungnya. “Fa inna khuliqo al hub lil aqwiyaa” kata Faia melantunkan lirik terakhirnya. Konser usai, kita pulang namun dengan arah yang berbeda. Kita tahu bahwa perpisahan adalah hal terberat yang harus kita lalui. Namun katamu, kita tak berhenti mencintai, hanya berhenti untuk saling menyakiti. 

Malam ini, seperempat rembulan menyala di atas jendela kamarku. Pikiranku merekam banyak hal dengan tatapan paling nanar yang pernah ada. Suara cangkir diletakkan, kretek terbakar, teriak anak-anak berlari di kejauhan, dan Faia yang melantun di balik speaker kecil hadiah ulang tahun darimu beberapa bulan lalu. 

Tidak banyak bintang malam ini, namun ingatan tentangmu bertaburan di langit-langit hatiku. Masihkah dadamu bergetar ketika pelan-pelan kudzikirkan namamu sebelum aku tidur? 

31 Januari 2020.

Baca juga cerpen lainnya:

Komentar