Khutbah Jumat - Dialog Surat Al-Fatihah

Salah satu rukun yang wajib ada dalam tiap rakaat salat adalah bacaan surat Al-Fatihah. Surat ini tidak hanya sebagai bagian dari salat, bahkan disebut sebagai inti dari salat. Setidaknya dalam sehari semalam, seorang muslim bisa dipastikan akan membaca surat ini sebanyak 17 kali dalam salat fardu. Apalagi jika ditambah dengan salat sunah, atau momentum lain di luar salat, tentu intensitasnya akan makin banyak lagi. Namun pertanyaanya, sudah seintens apa pemahaman kita atas bacaan yang setiap hari dirapalkan tersebut? Apakah surat Al-Fatihah ini sudah benar-benar menjadi bagian dari cara kita berkomunikasi dengan Allah dalam setiap salat, atau jangan-jangan surat ini dibaca hanya sebatas pelengkap salat dan formalitas ibadah belaka? Sudah seyogyanya seorang muslim menghayati dan meresapi rahasia agung yang terkandung di dalamnya; sebab ia tengah bermunajat kepada Rabbnya. Dengan demikian, hatinya akan lebih khusyuk, lebih tahu atas apa yang ia ucapkan, dan lebih mungkin untuk bisa memb

Serunya Ikut Kursus Online


Dari tiga versi lagu Terlanjur Mencinta yang dinyanyikan Lyodra, Tiara, dan Ziva, saya lebih menyukai versi Tiara. Alasannya ya karena Tiara adalah Muhammadiyah. Sesimpel itu. Ya mau gimana lagi, mau suka sama Ziva atau Lyodra tapi kan mereka kafir. Jadi ya udah lah ya, Tiara aja. Siapa tahu dia mau sama alumni Sastra Arab macam aku. Kali aja kalau Tiara mau sama aku, besok-besok single lagu dia bukan hanya Terlanjur Mencinta, tapi syi'ir-syi'ir mu'allaqot. 

Mendengarkan tiga versi lagu itu dan membandingkannya satu sama lain menjadi hal baru yang tidak penting dilakukan tapi tetep dilakukan. Ya gimana lagi, di masa pandemi gini aktivitas onlineku mengalami peningkatan, termasuk peningkatan melakukan hal-hal gak jelas semacam bandingin lagu Terlanjur Mencinta. Makanya dibutuhkan kesadaran untuk bisa mengontrol kegiatan online agar tidak kebanyakan aktivitas tidak penting yang dilakukan. Dan rupanya, kesadaran itu muncul dari webinar bertajuk Digital Well-being yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Investasikan waktu untuk hal-hal yang hasilnya bisa terukur, katanya.     

Semenjak pandemi melanda, hidupku jadi penuh webinar. Ada yang ikutan mantengin doang, ada juga yang jadi narasumbernya. Di bulan Agustus, saya dua kali jadi narasumber webinar dan dua-duanya gak bener. Webinar pertama terputus di sesi tanya jawab akibat wifi rumah dan paket data sama-sama habis kuota. Webinar kedua adalah webinar bareng mahasiswa UIN Makasar yang zona waktunya WITA, sementara otak saya kalau ngitung jam Indonesia pasti WIB. Jadinya saya terlambat satu jam dan itu memalukan. 

Selain webinar, kebiasaan baru yang saya lakukan adalah ikutan kursus daring. Awalnya coba-coba, lama-lama ketagihan. Platform pertama yang saya temui adalah Google Digital Garage. Kalau tidak salah, sejak Juni atau awal Juli lalu, saya mulai nyicil satu-satu untuk mengkhatamkan aneka kelas yang ada di platform itu. Dari mulai materi personal branding, cara mengatur pertemuan, cara menyusun CV, digital marketing, sampai kursus yang sebenarnya agak membosankan tapi lumayan lah: Science of Well-being, sebuah ilmu tentang kebahagiaan.

Dari titik itu, akhirnya wawasan saya soal perkursusan online jadi lumayan terbuka lebar. Tidak hanya di Google Garage, saya juga jadi ikutan kelas-kelas di platform lain seperti Edraak, Coursera, Indonesiax, iTunes U, Learning LinkedIn, dan Kaya Leadership Academy. Jadinya, bulan Juli-Agustus adalah bulannya saya mengoleksi sertifikat. Tinggal nunggu sertifikat tanah warisan aja nih yang belum turun. *loh...

Salah satu alasan kenapa seneng banget ikutan kursus-kursus itu adalah karena saya gak punya kepastian nanti bakal kerja apa untuk bisa ngumpulin cuan. Gak kaya Masisir lain yang bapaknya kyai dan punya pesantren, mau hidupnya kaya apa juga, pulang-pulang langsung jadi Gus. Atau kalau bapaknya punya perusahaan, pulang-pulang bisalah nerusin bisnisnya. Nah aku? Kalau besok orang tuaku mati nih, gak ada yang namanya privilage-privilage-an. Ditambah ijazahku adalah keluaran sebuah jurusan kuliah yang tidak didesain untuk menjadi pengumpul cuan yang banyak. Ya kali belajar balaghoh bisa bikin paham strategi mencuri pasar ketika harga saham sedang naik. Makanya sekarang mumpung masih kebanyakan waktu luang, harus ngumpulin sebanyak mungkin 'senjata' biar nanti gak panik-panik amat. Siapa tahu ya kan bisa ngelamar Tiara pake sertifikat kursus online. 

Jika dilihat dari kelas-kelas yang saya ikuti, sebenarnya random banget. Selama kelihatan menarik dan penting, ikuti! Misalnya di awal-awal kenalan sama kursus online, saya nyari kursus yang berkaitan dengan Public Relations. Alasannya ya karena linear sama apa yang sudah saya pelajari sebelumnya. Lalu bergeser ke kelas Digital Marketing, Marketing Communication, Art of Negotiation, sampai akhirnya jadi lintas kelas seperti Kesehatan Mental, Supply Chain, Project Management, Core Humanitarian Standard, dll. Tujuannya? Ya biar anjay aja. 

Kursus-kursus yang saya ikuti secara garis besar memang ngikutin kebutuhan pasar dunia kerja. Khususnya bidang-bidang yang memang dibutuhkan tapi tidak pernah saya pelajari secara formal. Meskipun saya belajar materi-materi Humanitiarian, tidak berarti juga secara spesifik pengen jadi pekerja sosial. Tapi poinnya, materi-materi itu mem-brainstorming cara pandang kita, atau cara pandang saya, terhadap banyak hal. Misalnya dengan belajar Supply Chain, cara pandang saya soal fenomena jual bagasi tidak semata-mata hanya sebagai usaha Masisir, tapi saya bisa melihatnya dengan teori-teori yang tidak pernah saya pelajari sebelumnya. Atau dengan belajar Consumer Behavior, tiap kali ada iklan Youtube lewat bukan hanya sebuah tayangan yang pengen buru-buru di-skip, tapi saya jadi punya analisis kenapa saya pengen buru-buru skip iklan itu. 

Jangka panjangnya, siapa tahu dari wawasan yang dipelajari hari ini, ada satu atau dua mah yang bisa mengantarkan kita masuk surga. Omaygat soleh banget kalimat ini! Kita ralat: mungkin ada satu dua mah yang mengantarkan kita jadi orang kaya. Secara kan, saya tuh obses banget jadi orang kaya biar kalau beli red velvet Loyang Yasmine tuh gak perlu nawar. Atau kalau harga kuenya udah dituruin tapi delivery-nya masih harus bayar, saya gak perlu bilang "yaaah kirain tausil gratis...". 

Tapi sekarang Loyang Yasmine keren ya, bisa bermitra dengan jasa kirim barang JNB. Buat yang belum tahu, JNB itu adalah sebuah start up yang baru operasional satu minggu langsung bisa kebeli motor. Gila gak? Berarti gede banget tuh untungnya. Motor aja kebeli tapi ngiklan di blog ini aja belum dibayar. Udah mau sebulan loh! Anjay lah JNB.

Meskipun kursus-kursus ini belum begitu terasa manfaatnya sekarang-sekarang ini, saya ngerasanya kesibukan ini lumayan cukup menurunkan tensi kekhawatiran masa-masa quarter life crisis. Pasti ada fase di di usia 25-an, kita mulai bingung dan ragu soal banyak hal. Dan buat saya, kursus-kursus ini, atau dalam bingkai yang lebih luas, belajar hal-hal baru ini adalah salah satu solusi yang cukup menyenangkan untuk mengurangi kekhawatiran krisis seperempat kehidupan. 

Pernah suatu kali saya baca di salah satu buku yang entah apa judulnya, bahwa apa yang kita baca hari ini adalah yang menentukan kita di lima tahun mendatang. Saya gak punya klu akan jadi apa dan ngapain lima tahun dari sekarang, makanya hari ini harus melakukan sesuatu yang bernilai biar lima tahun lagi, kalau memang kutipan buku itu benar, hidupku gak gini-gini aja. 

Jadi, lima tahun lagi akankah aku bertemu dengan Tiara?

01 September 2020. 


Baca juga:

Nasehat untuk Maba dari Kakak yang Udah Dua Kali Rosib

Guru Bimbel, membantu najah atau mempercepat nikah?

Jika Masisir menikah dengan non-masisir

Seni menangani jamaah haji nyasar

Kenapa Masisir suka pencitraan?

Surat cinta untuk Adek yang gak lolos seleksi ke Mesir


Komentar

Posting Komentar