Drama Beasiswa India

Saya tidak benci India, tapi tidak juga jatuh hati pada India. Sikap, perasaan, dan pikiran saya soal India adalah biasa saja. Kalau ada kesempatan pergi ke sana, saya akan bilang "ayo!". Kalaupun kesempatannya gak ada, saya juga gak akan ngebet mencari berbagai cara. Kondisi ini yang saya alami dalam setahun terakhir soal India. Pas tau saya dapet beasiswa S2 ke India, ya saya senang dan bilang "ayo!". Tapi pas tau ternyata cuma prank, ya udah. Biarin aja. Kok bisa? Jadi ceritanya gini. Di awal-awal baru pulang dari Cairo, 2021 lalu, saya banyak mencari informasi soal lowongan kerja dan beasiswa S2. Doanya memang gak condong ke dapet kerjaan atau dapet beasiswa, pokoknya yang mana yang nyantol duluan, berarti itu yang terbaik. Entah berapa beasiswa dan lowongan kerja yang waktu itu saya lamar, pokoknya tak terhitung. Lalu di tengah pencarian Google, nemu lah satu info tentang beasiswa S2 di India, namanya beasiswa ICCR (Indian Council for Cultural Relations). ICCR

Ramadan Tanpa Undangan Bukber


Jangan mudah tergiur dengan ajakan bukber mahasiswa yang baru satu atau dua tahun di Mesir, karena besar kemungkinan definisi bukber nikmat versi mereka adalah berburu maidaturrahman. Ngabring ke sana, ngabring ke sini, yang bagi mahasiswa tua macam aku mah udah males lah gitu-gituan teh. Maidaturrahman itu acara bukber gratis yang mudah ditemui di pinggir jalan, di masjid, atau di tempat-tempat tertentu yang mudah diakses oleh siapapun. Menunya ya gitu, makanan Mesir yang dimasak dan dihidangkan dengan cara yang sangat Mesir. Duh gimana ya ngebahasainnya? Pokoknya kalau mau bahas soal steril-sterilan, virus korona aja menangis melihat ini. 

Paling enak diajak bukber itu sama orang yang sudah berkeluarga. Tidak selalu, tapi pada umumnya. Gak tau kenapa kalau orang sudah berkeluarga, dapurnya suka banyak makanan. Dan menu berbukanya tidak seperti Masisir yang belajar masak pada umumnya: cabe tomat bawang masukin blender, lalu bahan apapun dijadikan balado. Telur lah, terong lah, ayam lah, kentang, wortel, pokoknya konsep bumbunya sama. Kalau makanan berkuah, panasin aja air lalu masukin meggi dan sayap ayam sekilo 20 pon. Dengan langkah-langkah itu, kewajiban piket masak pun kelar. Tapi lain cerita dengan dapurnya para mutazawwijin. Pilihan menunya lebih variatif dan biasanya mereka lebih niat buat masak menu-menu yang prosesnya lebih ribet dengan bumbu yang lebih rumit.

Mungkin ceritanya agak lain kalau di rumah mahasiswi, tapi gak tau ya gimana. Gak pernah ada mahasiswi yang ngundang bukber ke rumahnya sih, jadinya aku gak tau. Apa aku harus jadi Mas Fardan dulu biar bisa diundang bukber sama mahasiswi? Dipikir-pikir, enak loh jadi Mas Fardan. Cuma modal jadi guru bimbel, lebih tepatnya jadi gurunya guru bimbel, gak ada undangan bukber pun, makanan bukber berdatangan ke rumah. Ada risol, gorengan, donat, dan kue-kue lain yang gak tau namanya. Pokoknya kalau kamu masih Maba, bercita-citalah supaya jadi Mas Fardan. Jangan jadi aku, susah! Udah usaha bikin Cutterme, jadi blogger, tetep aja gak ada takjil gratisan kaya Mas Fardan. Apa atulah, di dunia ini gak ada yang mau dilahirkan sebagai Mang Maul. Hiks.

Selain orang-orang berkeluarga, undangan bukber dari senior biasanya tak kalah menarik. Apalagi seniornya yang udah kerja, punya penghasilan, dan tau rumah makan mana yang makanannya enak dan layak difoto sebagai kenangan bukber puasa. Bisa dipastikan, saya gak akan nolak. Ada juga momen yang biasanya ditunggu tiap ramadan di Mesir adalah ikut salat taraweh di Masjid Sekolah Indonesia Cairo (SIC). Memang bukan bukber puasa, tapi biasanya setiap beres taraweh ada acara makan-makannya dengan ibu-ibu KBRI. Menunya gak pernah mengecewakan, sebab yang bikinnya surplus: ibu-ibu mutazawwij, KBRI pula. Sesuai kata pepatah, isi  dompet gak pernah mengkhianati hasil. Tapi sayangnya sejak ada corona, makan-makan di SIC ini cuma jadi khayalan belaka. 

Jadi kalau ada undangan bukber secara bersamaan di hari yang sama dari sana-sini, skala prioritasnya akan begini: undangan bukber senior jika makannya di rumah makan bagus, undangan bukber di rumah mutazawwij, dan baru yang terakhir undangan makan anak Maba. Tapi mending masak sendiri di rumah daripada ngehadirin undangan Maba mah, takut prank. Apalagi di zaman-zaman sekarang yang lagi viral konten ngeprank, banyak orang nampaknya punya obsesi untuk melakukan hal serupa. Maba di rumahku aja, hidupnya gitu-gitu aja, gak ada yang bikin hati merasa ingin untuk bilang subhanallah. Tapi kalau liat status-statusnya di sosial media, seolah-olah ia sedang mengubah dunia. Apalagi kalau udah lama di kamar mandi, aku suka susah berhusnudzan. Mau disangka sedang nyari inspirasi, tapi karyanya apaan? Mau mikir dia melakukan hal yang mantap-mantap di dalem, tapi kan siang hari dan lagi puasa. Mustahil kan? Ah susah pokoknya. 

Kembali ke soal bukber, tahun ini adalah tahun di mana tak ada satupun undangan bukber. Ada sih yang ngundang, tapi ngeri buat pergi-pergi di masa pandemi kaya gini. Apalagi dengan kondisi negara yang sulit dibaca kaya gini, di mana kita gak tahu pasti persebaran korona itu ada di mana tepatnya, di Kairo bagian mananya, jumlah pastinya berapa, keluar rumah buat bukber di tempat orang adalah kenekatan yang hakiki. Bahkan kalau terpaksa keluar rumah pun, perjalanan Darrasah ke Sabi' aja serasa menempuh perjalanan jihad. 

Tapi meskipun gak ada undangan bukber, hikmah besarnya adalah kekompakan dengan penghuni rumah menjadi lebih erat. Setiap hari jadi punya agenda bersama untuk mikirin, kira-kira kita bikin apa ya buat buka hari ini? Apalagi dengan kondisi orang-orang rumah yang sehari-harinya jarang di rumah, ngumpul aja biasanya susah, mana ada acara kumpul bareng bikin cireng, bikin risol, dan ghibah bareng tentang para mantannya penghuni rumah. Ya gimana ya, kumpul tanpa ghibah itu bagai Fathul tanpa ambyar. Setiap kumpulan pasti ada ghibahnya, sebagaimana melekatnya Fathul dengan kisah ambyarnya. 

Ngomong-ngomong, kasian ya Fathul. Ketika kita denger kata ramadan, pasti yang keinget adalah momen puasanya. Tapi pas denger nama Fathul, yang keinget adalah kisah pilunya. Benar-benar personal branding yang memilukan.

Rabu, 13 Mei 2020.

 

Komentar