Postingan

Perbincangan Culture Shock di Amerika

  Beberapa minggu lalu, saya ketemu Pak Marpu di pesantrennya. Pak Marpu adalah guru pertama yang ngajarin saya Fikih sewaktu kelas satu MTs dulu. Salah satu yang kita obrolin waktu ketemu itu adalah soal bagaimana saya melihat sekaligus menyikapi Amerika yang dulu saya ekspektasikan, dengan Amerika yang saat ini saya alami. Tentu saja ada gap di antara keduanya, sesiap apapun mental dan fisik kita menghadapi kehidupan Amerika yang sudah sedikit banyak bisa diketahui dari media. Saya kaget bahwa di DC orang bisa ngeganja dengan bebas. Orang ngelinting di bis, di kereta, atau di taman adalah hal yang sering saya temui. Di New York, perempuan bisa bebas bertelanjang dada, juga berjemur di rerumputan Central Park hanya dengan  two piece  layaknya di pantai. Sajian  wine  di acara resmi, orang ke klub seks, orang tidak beragama, orang menikah sesama jenis, adalah list  culture shock  yang sebenarnya tidak perlu dikagetkan lagi kalo bicara Amerika, toh hal-hal itu sudah banyak ternarasikan

Turats: Mengungkit Masa Lalu, Menerka Masa Depan

Cancelling Recoil, seni menolak distraksi ketika malas baca buku

Musik Iman Ulle yang menyatukan

Catatan Safari Literasi Gol A Gong yang tidak seru

Gotong Royong Benerin Jalan di Momentum Agustusan

Cara Mengurus Penyetaraan Ijazah Luar Negeri di Kementerian Agama

Orang Tua yang Berbakti kepada Anaknya

Review Buku Hukum Internasional by Prof. Dr. Boer Mauna

Seni Mengontrol Diri bersama Filosofi Teras by Henry Manampiring

Pengalaman Wawancara Kerja di Kedubes Suriah Jakarta

Mengurai kenangan di kafe-kafe Kairo

Memahami Revolusi Arab secara lebih matang | The Arab Spring by Ahmad Sa...

Di balik pernikahan Teh Euis dan Mas Fardan

Mari Kita Ngomongin Korona

Islam yang Saya Anut: Dasar-Dasar Ajaran Islam by M. Quraisy Shihab